Tradisi nyeput atau beragem
      Tradisi nyeput atau beragem ini adalah suatu tradisi yang dimana seorang yang akan melakukan tradisi nyeput atau beragem ini terlebih dahulu menenangkan pikirannya dan meluruskan niatnya untuk nyeput, Kemudian melakukan langakah langkah yang menjadi peraturan dari nyeput tersebut. Nyeput atau beragem ini dilakukan dengan cara mengambil salah satu lembar daun lontar secara acak, kemudian lemaran itu dibacakan dan dimaknai oleh tokoh agama tersebut. Orang yang melakukan tradisi nyeput akan mengetahui perjalanan hidup kedepannya melalui makna yang terkandung dalam daun lontar yang dibacakan tersebut. Tetapi setelah selesai melakukan tradisi nyeput ini tidak seharusnya untuk selalu memikirkan atau menjadikan hasil dari nyeput itu patokan hidup kita.
     
Pada hari sabtu tanggal 9 november 2019 jam 6:14 saya pulang kerumah untuk  untuk menemui tokoh agama, tapi saya pergi ke tokoh yang berbeda yang ada di KLU. Saya sampai di rumah kira-kira pukul 8:37. Saya tidak langsung pergi kerumah tokoh agama tersebut untuk melakukan tradisi nyeput, tapi saya tunggu teman2 saya dulu. Saya pergi kerumah tokoh tersebut bersama teman-teman sekitar jam 21:15. Sesampai disan kita disambut oleh anak perempuannya karna tokoh agama atau yang sering dipanggil puk cam sedang pergi, jadi kita nunggu sulu sambil ngobrol-ngobrol. Setelah puk cam pulang kami pun menyampaikan maksud kami kembali lagi mendatangi kerumahnya untuk melakukan tradisi nyeput. Sebelum ke acara nyeput lebih dulu kita mendengarkan tembangan dari puk cam, yang ia tembangkan pada saat itu ialah naskah 'doyan mangan'. Di sela tembangannya kita membahas lagi tentang nyeput, tapi puk cam melanjutkan tembangannya, kami bingung antara puk cam tidak mengerti dengan tradisi nyeput atau memang dia tidak memperbolehkan kami untuk melakukan tradisi nyeput tersebut. Puk cam waktu itu hanya melihat karakter kami  dari nama mereka masing-masing. Tapi anehnya giliran nama saya yang disebut  dia tidak mau memberi tahu karakter dari nama saya tersebut. Sekitar 12 malam kami  pamit untuk pulang, dan sedikit merasa kecewa karena tidak bisa lebih jauh mempelajari tradisi nyeput atau beragem tersebut. 
       
       

Komentar