Assalamualaikum wr wb. Hello guys perkenalkan nama saya Fitrianingsih, saya disini akan menceritakan perjalanan saya mencari naskah kuno dan sekaligus menambah wawasan kita akan pentingnya menjaga kelestarian budaya kita, oke langsung saja.
Rabu, 23 oktober 2019 tepat jam 6:35 saya berangkat dari kos ke KLU, saya lewat jalan senggigi karna di pagi hari udara yang sejuk dan motor yang berlalu lalang jarang di sana membuat laju motor jadi lancar hingga cepat sampai tujuan sekaligus menambah kecantikan pemandangan di sepanjang jalan. Saya pulang sendirian karna teman-teman saya sudah jalan duluan mencari naskah kuno. Tepat di Dusun Senjajak, Desa Sambik Bangkol,  Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara (KLU). Saya sampai dirumah pada pukul 8:06 dengan sambutan heran dari ibu saya karna saya tiba-tiba saja pulang tidak ada cerita lebih dulu :). Setelah saya istirahat sejenak saya langsung bergegas untuk pergi ke rumah salah satu tokoh masyarakat yang masih menyimpan naskah-naskah kuno. harus cepat karena harus balik lagi kemataram karna pukul 14:00 ada kuliah.
Seorang tokoh masyarakat yang biasa dipanggil amak gemis di rumah, beliau merupakan seorang yang mampu menembangkan naskah-naskah kuno. Singkat cerita saya diberikan naskah kuno yang berjudul perjalanan hidup Datu Keling dan Datu Dahe. Datu Keling dan datu Daha merupakan dua bersaudara yang tinggal atau memimpin di kerajaan yang berbeda, konon katanya dua Datu ini sudah lama tidak memiliki anak, oleh karna itu mereka berdua pergi ke makam keramat yang katanya bisa mengabulkan semua permintaan. Datu keling berdoa semoga diberikan anak laki-laki yang dimana jika doanya terkabul kelak pada saat anaknya ngurisan dia akan datang ke makam itu sambil membawa "lekok selawah, gambir setokek, apoh senyolet, mako sesusut, buaq sebiris” (membawa sirih selembar, gambir sebiji, kapur, tembakau, serta  pinang).Datu Dahe berjanji jika doanya terkabul dia akan membawa "kao due saq betanggeq emas, awakne te kaput siq ludru, dait bekupak selake” (dua ekor kerbau  dengan berbagai perhiasan, seperti tanduknya akan  dilapisi dengan emas, kakinya akan dipasangkan perak, kemudian badannya akan di selimuti dengan kain sutra yang bagus dan indah)Benar saja kedua Datu ini meminta agar cepat mempunyai keturunan, singkat cerita permintaan dikabulkan Datu keling dikaruniai anak laki-laki yang diberi nama cirangge dan Datu Dahe dikaruniai putri yang bernama cilinaye. Cirangge dan cilinaye sudah dijodohkan dari kecil oleh kedua Datu yang dimana adalah bapak dari cirangge dan bapak dari cilinaye. 



 Gambar diatas merupakan naskah kuno yang dituliskan dalam bahasa arab melayu kuno, yang bagi orang yang bisa membaca tulisan arab melayu ini memang mudah dibaca dan mudah dipahami karna terjemahannya menggunakan bahasa sasak dan indonesia karena pada saat ditembangkan menggunakan campuran bahasa indonesia dan bahasa sasak. Selesai bertemu dengan tokoh masyarakat dan menggali ilmu pengetahuan tentang naskah kuno yang masih tersimpan sampai zaman modern atau yang lebih dikenal dengan sebutan milenial era.  Di zaman sekarang, dimana kemajuan teknologi semakin pesat, tak seharusnya kita lalai dengan peninggalan-peninggalan bersejarah tersebut, karena muatan-muatan nilai yang terkandung tersimpan dalam karya-karya tersebut. Meskipun kemajuan teknologi internet dengan kemampuannya menembus batas batas geografis, yang membuat dunia seakan tak berjarak bukanlah penghalang untuk tetap melestarikan budaya-budaya kita sendiri. Justru dengan adanya tehnologi dan juga internet ini kita bisa menjaga eksistensi budaya kita dengan mengenalkan budaya kita ke publik, salah satunya dengan cara memposting ke blog, dan sosial media yang kita miliki, agar warisan budaya yang ditinggalkan oleh leluhur kita bisa tetap terkenal di era milenial sekarang ini. Itu saja yang bisa saya bagikan semoga bermanfaat, terimakasih wassalamualaikum wr wb. 😊

Komentar

Posting Komentar